Zaman Jokowi Cari Duit Gampang, Kerja Dikit Upah Mahal

Hai gaes selamat datang di blog CeritaK, blognya saya Deka. Tempat saya bercerita semuanya yang ingin saya tuliskan. Hari ini saya akan CeritaK soal Zaman Jokowi Cari Duit Gampang Kerja dikit upah mahal. Kerja apa? Yuk disimak cerita saya.

Sebelumnya saya sudah cerita soal harga pembuatan (ketok) plat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) tiruan yang menurut saya terlalu mahal. (Baca juga:  Pedagang Tega, Lagi Butuh Harga Kemahalan)

Hari ini saya memutuskan untuk menyerah. Bukan hari ini sih tapi tepatnya kemarin (24/09/18). Cerita nya pagi ini saya tinggal mengambil hasil ketok plat aliar TNKB tiruan untuk motor saya, yang kemarin saya pesan.

Saya menyerah dan memutuskan untuk membuat (ketok) plat TNKB tiruan dipinggir jalan. Hal ini saya lakukan karena saya sudah bosan menunggu. Saya juga malu karena sudah berkali-kali bolak-balik dealer tidak kunjung mendapatkan plat nomor yang asli.

Selain itu saya tidak sudi dituduh pelit dan tidak mau berbagi rezeki dengan mereka (tukang ketok plat TNKB dipinggir jalan). Sebab Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) motor saya sudah lama saya terima. Malu sebab tiap hari motor saya bawa ke Palembang tanpa plat TNKB terpasang di depan maupun belakang.

Hari ini saya cenderung lebih banyak menyesal. Seharusnya saya tidak menghiraukan pendapat orang. Seharusnya saya percaya diri dengan keadaan motor saya yang tanpa plat nomor alias TNKB. Saya seharusnya merasa tidak bersalah, sebab TNKB itu seharusnya tercetak dan diterima pemilik kendaraan bermotor berbarengan dengan STNK.

Siapa yang salah?

Salah Presiden Jokowi yang tidak sanggup menyediakan stok plat yang cukup untuk TNKB yang asli. Salah Presiden Jokowi karena permasalahan kekurangan persediaan stok plat untuk TNKB yang juga telah jadi masalah pada pemerintahan sebelumnya namun belum mampu diselesaikan.

Bergairahnya bisnis Ketok plat TNKB tiruan

Di satu sisi permasalahan keterlambatan ketersediaan TNKB menjadi bentuk kegagalan pemerintah pusat dan Khususnya Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Di sisi lainnya, permasalahan ini justru menjadi limpahan rezeki bagi orang-orang yang membuka usaha Ketok plat TNKB tiruan. Utamanya di pinggir jalan. Mereka memiliki peluang mendapatkan penghasilan yang lebih.

Seolah aji mumpung. Mumpung masih ada kesempatan mereka mulai memanfaatkan peluang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Harga sepasang plat hasil Ketok dihargai pasaran Rp. 50. 000,-. Termurah harga sore hari Rp. 40.000,- Itu adalah harga berdasarkan hasil survei yang saya lakukan di sepanjang jalan dari kota Pangkalan Balai-Kota Palembang. Hal itu juga telah saya tuliskan dalam postingan di blog saya sebelumnya.

Saya menyesal dan kecewa berat sekaligus merasa sakit Hati dengan ulah oknum tukang ketok plat nomor tiruan yang saya pilih untuk digunakan jasanya. Bukan karena soal harga tapi soal perlakuan nya kepada konsumen. Sambil menulis ini hati saya masih juga terasa pedih. 

Kesalahan Pertama

Hari Senin, 24 September 2018 saya mendatangi tempat si tukang ketok plat TNKB tiruan yang menawarkan harga termurah. Saya dan si tukang ketok plat TNKB tiruan sudah cocok dengan harga Rp. 50.000,- tidak bisa ditawar lagi seperti waktu saya tanya lalu. 

Selain termurah (beberapa hari lalu) alasan saya ke tempat beliau karena tempat lain sudah tutup. Sehari sebelumnya saya juga telah ketempat ketok plat TNKB tiruan yang lain namun beliau tidak bisa selesai hari itu, saya batalkan. Ternyata di sana juga baru bisa diterima besok (hari ini) pukul 8,-- pagi. Ya saya mulai pasrahkan diri saja. Saya kasih panjar (tanda jadi) Rp. 20.000,- karena saya belum dapat barangnya.

Termurahnya saja tetap mahal, kenapa? Saya memikirkan beberapa alasan pembenaran. Pertama, mungkin karena dolar makin mahal, jadi harga plat juga mahal. Kedua, lain dulu lain sekarang 2014 motor keluarga kami yang lama juga membuat plat TNKB tiruan harganya Rp. 25.000,- itu 2014 sekarang 2018. Ketiga, harga motor saja naik jadi wajar plat TNKB tiruan juga naik. Intinya saya awalnya membela mereka. Memang mungkin modal usahanya menjadi lebih besar jadi wajar bila sekarang mahal.

Hari ini saya datang untuk mengambil plat TNKB tiruan yang saya pesan. Tidak ada firasat buruk. Saya bahkan sudah mendaftar tes yang jadwalnya persis hari ini juga. Plat TNKB tiruan yang saya pesan belum jadi. Saya malah diminta untuk melunasi terlebih dahulu biar dia bisa membeli bahan plat nya (katanya). Sekalian dia meminta nomor saya untuk menghubungi saya nanti jika sudah selesai (katanya).

Saya menolak untuk membayar lunas. Saya terlanjur hilang kepercayaan pada orang itu. Saya malah minta untuk uang saya dikembalikan saja, sebab kalau besok itu artinya sudah tidak wajib bagi saya untuk pakai plat nomor. Katanya beliau belanja bahan plat siang, karena tokonya buka agak siang. Saya butuhnya hari ini, tesnya hari ini, dan tidak mungkin saya bawa motor ke Palembang kemudian ditinggalkan di parkiran tanpa plat nomor alias TNKB.

Saya mengalah dan menawarkan untuk pakai plat TNKB saya yang lama saja. Saya kembali ke arah pulang ke rumah. Di jalan saya terus berpikir, pinjam motor om saya saja, rumahnya lebih dekat dari sana. Ya sudah nanti saja urusan perhitungan dengannya (tukang ketok plat TNKB tiruan) saya terpaksa pinjam motor om saya.

Selesai dari urusan saya di Palembang, kemudian saya mampir ke tempat ketok plat TNKB tiruan tersebut. Ternyata bahan platnya tetap juga belum ada. "Ini orang niat jualan gak sih" pikir saya kesal. Beliau malah menyalahkan saya karena pergi tanpa permisi. "Saya buru-buru begok" tentu saja ini juga dalam hati.

Kenapa saya kembali? Sebab pertama, uang panjar belum dikembalikan. Kedua, saya pinjam motor om saya tentu saja saya tambah malu kalau mengembalikan motor om dan mengambil motor saya tapi tidak jadi membuat plat TNKB tiruan yang "hanya" Rp. 50.000,-. Tiap hari jualan, tiap hari menulis, ngapain kok beli plat nomor Rp.50.000,- tidak bisa #DasarPelit.

Kesalahan kedua membuat penyesalan kian berlarut

Saya menjawab iya saja saat si tukang ketok plat TNKB tiruan menawarkan untuk pakai plat bekas. Saya mengiyakan tanpa bertanya harga alias negosiasi ulang. Pikiran saya sudah terlalu kacau, karena tes yang tadi saya ikuti soalnya susah. Yang Saya pikirkan hanya soal ketika saya mengembalikan motor om saya maka saya harus sudah membawa plat TNKB tiruan untuk dipasangkan di motor saya. Saya baru sedikit tenang saat mulai menulis ini.

Berikut video proses pembuatan (ketok) plat TNKB tiruan yang sengaja saya dokumentasikan:

Zaman Jokowi Cari Duit Gampang, Kerja dikit Upah Mahal

Saya tidak menyangka bahwa menggunakan plat bekas dari plat nomor asli ternyata membuat harga ketok plat TNKB tiruan ini menjadi lebih mahal. Saya diminta menambah Rp.50.000,- padahal saya sudah panjar Rp.20.000,- Tentu saja harga ini tidak bisa ditawar. Semudah itu ternyata cari duit. Untuk yang mau dan untuk yang tega.

Mau bagaimana lagi, saya butuh. Tidak ada salahnya mereka mematok harga yang tinggi, sebab orang-orang lagi membutuhkan jasa mereka. Parah, saya sengaja berakting pura-pura mencari-cari uang yang mungkin terselip di tas. Saya hanya bisa merintih pedih dalam hati. Sulit untuk terima suka, ikhlas dan rela. Entah uang itu bisa halal ataukah tidak bagi beliau dan keluarganya.

Upah yang cukup mahal sebab modal habis pakaiannya tidak habis 1 kaleng cat pilox warna hitam dan tidak habis 1 kaleng cat warna putih. Sementara palu, cetakan huruf dan angka dan besi tumpuan saat plat diketok adalah modal tetap nya. Jumlah upah Itu lebih besar daripada gaji pokok saya jualan yang hanya Rp.30.000,-/hari.

Sungguh tega atau memang manusia lainnya juga Setega itu. Intinya menurut saya ini bukti bahwa zaman sekarang untuk hidup di Indonesia makin sulit. Dengan upah setinggi itu saja saya tidak melihat ada unsur kemewahan yang melekat pada si tukang ketok plat TNKB tiruan tersebut. Saya lebih mewah karena punya hape android walaupun hanya Android murah. Tukang ketok plat TNKB tiruan yang lainnya juga begitu. 

Sederhana dan cenderung lusuh. Mungkin efek jarang dapat pesanan ketok plat TNKB tiruan. Wajar, jasanya mahal, tentu orang pikir-pikir. Ini saya sadari dari kenyataan bahwa ketika saya kembali ke sana siang hari tetap juga tidak ada bahan plat nya. Mungkin. Itu hanya asumsi. Asumsi lain bisa jadi orang ini memang tidak berniat untuk bisnis tapi hanya menipu berkedok jasa ketok dan jual plat TNKB tiruan. Bicara asumsi tentu semua kemungkinan bisa terjadi.

Demikianlah tulisan saya ini. Benar sekali jika ada banyak opini yang berkata bahwa pada  zaman Presiden Jokowi cari duit mudah, kerja dikit, ketok-ketok dikit, semprot cat dari satu orang sudah bisa mendapatkan uang Rp. 70.000,-/ pelanggan. Memang terlihat seperti itu.

Terakhir saran saya untuk kamu-kamu yang baca tulisan ini lebih baik tidak usah membuat (ketok) plat TNKB tiruan. Jika ditilang polisi maka viralkan. Salah polisi Plat belum keluar, salah Presiden Jokowi permasalahan plat bahan TNKB tidak kunjung usai. Walaupun saya tidak menyarankan kamu yang belum punya TNKB untuk lewat di tengah razia (walau punya SIM).


0 Response to "Zaman Jokowi Cari Duit Gampang, Kerja Dikit Upah Mahal"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar, semoga artikel yang kami posting dapat bermanfaat bagi anda :D

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel