Masih suka Meminta-minta dijalanan?

Sabtu, 28 Juli 2018, mata saya menjadi saksi atas tindakan tidak terpuji seorang oknum polisi. Tidak ada bukti dan tidak ada Dokumentasi. Ini hanya argumentasi berdasarkan penglihatan mata telanjang berlapis kacamata dan berlapis helm yang sedang saya gunakan.

Ya saat itu saya lagi di jalan dengan mengendarai sepeda motor. Kemudian berpelintasan dengan seorang oknum polisi yang juga sedang menunggangi sepeda motor juga. Dibalik spion saya pikir oknum polisi tersebut memutar untuk menangkap atau menghentikan laju motor saya. Saya pasrah.

Kemudian ternyata oknum polisi tersebut menyalip laju motor saya. Tampak mengejar sesuatu yang kemudian saya yakin adalah mobil truk yang jaraknya terpisah satu mobil pribadi di depan saya. Agak aneh mengingat truk tersebut terlihat dalam keadaan kosong.

Sang oknum polisi tampak kesulitan menyalip. Kendaraan dari arah berlawanan cukup ramai. Dan saya lihat mobil pribadi tersebut ternyata cukup melawan dengan tidak mengalah dan membiarkan sang oknum polisi untuk menyalip. Nekat, pikir saya.

Agak lama, sang oknum polisi berusaha mengambil posisi di sebelah kiri daripada mobil truk tersebut. Jalanan dan mata saya menjadi saksi. Mobil truk tersebut tidak dihentikan oleh sang oknum polisi. Terlihat terlibat sedikit pembicaraan hingga si kernet menyalurkan kertas yang entahlah mungkin berupa lembaran uang. Setidaknya orang yang melihat bisa jadi beranggapan begitu.

Setelah selesai dengan “urusan” itu sang oknum polisi tersebut mengurangi kecepatan laju motornya. Truk tersebut tetap melaju terus kearah tujuannya dan sang okmum polisi kembali memutar arah hingga kemudian menghilang dibalik pandangan kaca spion motor saya.

Tulisan ini tidak untuk memojokkan institusi kepolisian. Saya bahkan tidak mengingat atau mencatat dan mendokumentasikan plat nomor sang oknum polisi dan mobil truk tersebut.

Tidak ada bukti untuk membuktikan apa yang saya tulis ini. Saya bukanlah seorang motovloger yang kemana-mana selalu membawa kamera dengan posisi aktif merekam. Jadi saya tidak sempat mengabadikan gambar. Itu tetap atraksi berbahaya meski yang melakukan seorang oknum polisi.

Hal yang menarik menurut saya justru apa sebenarnya yang menjadi penyebab utama sehingga sang oknum polisi berani berbuat nekat seperti itu (berbicara dengan penumpang atau pengemudi kendaraan lain sambil mengemudikan kendaraan yang dibawa sendiri). Tidak takut kamera pengintai dan tidak sayang nyawa sebab bisa saja tidak sengaja terserempet truk tersebut.

Di era digital seperti sekarang ini menurut saya sang oknum polisi sebenarnya telah melakukan tindakan yang sangat nekat dan penuh resiko. Ada banyak sudut dimana bisa saja ditempelkan kamera-kamera. Bisa di helm atau dimanapun jika niat seperti para motovloger.

Jika di hadapan kamera jelas tindakan beliau bisa saja dianggap sebagai pungli. Entah apa yang melatarbelakangi sang oknum polisi berbuat senekat itu.  Tidak berpikir bahwa siapa saja bisa mengabadikan momen tersebut jika mau. Mempertaruhkan nama baik dirinya dan juga institusi Polri.

Tapi saya tidak mau, sebab saya tidak ahli dan kemungkinan besar momen akan lewat saat saya berhenti sejenak dan mengeluarkan ponsel saya. Lagipula memegang ponsel dan merekam gambar sambil membawa motor adalah sesuatu yang sangat berbahaya menurut saya. Beruntunglah saya tidak punya kamera seperti yang digunakan motovloger.

Tulisan ini berdasarkan pada momen-momen yang tertangkap di depan mata saya. Menulis sebenarnya bukanlah hobi saya. Menulis bagi saya adalah cara saya untuk mengurangi beban-beban yang ada dalam pikiran saya. Beban-beban dalam pikiran tersebut dapat berupa unek-unek, kekesalan atau keluhan.

Bagi saya hal seperti ini hanya cukup tahu sama tahu saja. Bahwa momen seperti ini masih ada dan inilah kenyataannya.

0 Response to "Masih suka Meminta-minta dijalanan?"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar, semoga artikel yang kami posting dapat bermanfaat bagi anda :D

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel