Kapan terbit lagi? Dan soal jadi Pejabat?

Kemarin (Kamis, 19/07/18) ayah berkata "pintar uji kau, mase pintarlah mamang kau tu" terbayang itu artinya mungkin membandingkan kami dengan nomor 1 tingkat provinsi.

Hari ini (Jum'at, 20/07/18) ayah kembali untuk kedua kali mengatakanya lagi "kak jingok saingan kau terbit, ngp kau dak terbit lagi? Kalah kau kak". Setelah sebelumnya dua hari yang lalu ayah berkata seperti berikut ini:
Ayah said: Kalah kak kau, urang ini terbit hari ini. 

Dan beginilah lanjutan obrolan kami hari ini.

Ak: iye kalah, padahal la banyak ku kirim.
Ak: hari ini mimbar Jum'at yah.
Ayah: ap kau nak jadi khotbah? Kagek ayah omongke kawan ayah.
Ak: ai blm pantas yah.
Ayah: nah cakmne nak jadi pejabat.
.
Entahlah, itu adalah cara ayah memotivasi kami. Dengan merendahkan kami serendah-rendahnya. Dengan cara itulah kami senantiasa menginjak bumi.

Kami memang belum pernah jadi nomor 1. Itu adalah kenyataanya. Dan kami tidak pernah merasa paling pintar. Meskipun begitu kami risih jika ada orangtua-orangtua lain yang seolah menjuge kami lebih bodoh ketimbang anak-anaknya.

Kemudian, memang tidak mungkin untuk semua yang saya kirimkan bisa diterbitkan. Sebuah media massa yang baik tentunya membuka peluang bagi sebanyak-banyaknya orang untuk ikut berkontribusi dalam menuangkan hasil pemikirannya. Jadi wajar saja jika ada banyak orang-orang baru, maka orang-orang lama atau yang sudah pernah tampil sebelumnya harus menunggu gilirannya untuk terbit kembali.

Lagipula inti dari banyaknya tulisan yang saya kirimkan berangkat dari niat untuk berbagi hasil pemikiran, pengalaman kepada banyak orang sekaligus juga mempromosikan diri serta blog dan web yang saya punya.

Kemudian soal menjadi pejabat. Saya punya keyakinan, jika saya setidaknya telah menghasilkan 1000 karya tulis yang terbit, tentunya saat itu terjadi saya bukan lagi orang biasa yang cuap-cuapnya dan status-status Facebook tidak berbobot dan miskin analisa atau orang yang bisanya hanya nyinyir saja tanpa pembuktian.

Saat itu "mungkin" saya telah fasih dengan sistem yang ada mulai dari akar hingga puncak Indonesia. Namun, bisa saja hal itu tidak akan pernah terjadi. Ketimbang kembali menjadi pejabat dengan kemampuan seadanya (pernah terjadi di kampus) lebih baik tidak. 

1000 karya tulis bukan angka yang sedikit dan bukanpula hal yang mudah bagi saya. Bahkan blog pribadi saya yang sudah berumur 5 tahun + ditambah blog pribadi lainnya yang berumur 1 tahun (tidak aktif) jumlah yang saya tulis tidak sampai 400.

Sampai saat ini yang terdata tulisan saya telah terbit 11 kali. Jadi, berpikirlah, jika Anda tidak punya karya tulis terbit lebih dari saya maka jelas Anda jauh dari kriteria pejabat ideal menurut saya. Anda tidak pantas. Anda tidak punya kemampuan untuk menganalisa dengan baik. Begitulah opini saya.

Sebuah kebijakan seharusnya dapat direncanakan secara matang dengan mempertimbangkan segala aspek yang mempengaruhinya. Untuk itu Anda harus menulis.

Tidak mungkin sebuah kebijakan terjadi begitu saja tanpa disadari atau direncanakan. Untuk itu harus ditulis secara detail. Setidaknya "seharusnya" seperti itu.

Sebelum menulis Anda harus mencatat. Sebelum mencatat Anda harus banyak mengamati hal-hal yang terjadi di sekitar. Intinya menulis itu wajib jika ingin kebijakan yang diambil dapat sesuai dengan yang diharapkan.

Dan saya yakin bahwa saya bukan orang itu jika tulisan saya yang terbit kurang dari 1000. Bahkan angka 1000 karya tulis menurut saya hanya sanggup mengatarian saya untuk baru saja masuk kategori "mungkin" layak jadi pejabat. Artinya belum tentu layak.

Standar yang sangat tinggi menurut saya. Dan oleh karena itu dari awal saya sudah menuliskan bahwa "bisa saja hal itu tidak akan pernah terjadi".

Sebab jika seandainya saya telah berhasil mengumpulkan jumlah 1000 karya tulis terbit dan ternyata masih merasa kurang mampu dalam menganalisa dan masih belum fasih dengan sistem dari akar hingga puncak Indonesia maka kesimpulannya sama saja saya belum layak.

Lalu bagaimana menurut Anda? Apakah Anda pantas meski dengan kemampuan seadanya? Itu terserah Anda untuk menjawabnya.

Fokuslah hanya kepada karya. Apa yang bisa diberikan dan dilakukan untuk bangsa dan negara. Biarkan sumbangan karya-karya kecil tersebut dapat berguna untuk kemajuan nusa dan bangsa. Dan biarkan orang lain memberikan penilaiannya tanpa intervensi, bujuk rayu dan iklan yang Anda sebarkan bersama orang-orang Anda.

Tulisan ini sekaligus menyindir Anda yang merasa paling jago dan merasa pantas meski belum punya prestasi yang nyata.

0 Response to "Kapan terbit lagi? Dan soal jadi Pejabat?"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar, semoga artikel yang kami posting dapat bermanfaat bagi anda :D

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel