Jodoh di Tangan Allah

Jodoh ditangan Allah kak. Begitulah mungkin kalimat yang dituliskan olehnya 3 hari yang lalu. Hingga hari keempat tulisan ini saya edit pun, saya belum juga berani untuk memberikan pesan balasan. Soal wanita saya memang pengecut, karena itu saya selalu membiarkan mereka datang, lewat dan kemudian pergi begitu saja.

Sejujurnya saya merasa lebih nyaman jika tidak ada sama sekali wanita yang berusaha, berjuang mencoba untuk menggoda saya. Semuanya terjadi begitu saja, Allah telah menciptakan mereka untuk mengusik kenyamanan saya. Allah telah menghadirkan kenyamanan yang lain atas kehadiran mereka. Mungkinkah dia jodoh saya? Atau "Haruskah aku kembali melewatkan dirinya lagi?" Begitulah yang selalu jadi beban dalam pikiran saya.




Namun, Allah menunjukkan kekuasaanNya. Bahwa Allah maha pencemburu dibandingkan makhluk hidup ciptaanNya. Dan saya? Semakin saya menginginkannya untuk menjadi masa depan saya justru Allah semakin menjauhkannya. 

Saya iri, mungkin juga dengki atas nikmat yang diterima oleh orang lain untuk bisa saling dekat dengan calon jodoh yang disukainya. Saya selalu didekatkan dengan cara yang tidak tepat, diwaktu yang belum tepat dan tidak saya suka. Kemudian saya dijauhkan hingga sejauh-jauhnya saat dimana saya mulai pasrah dan menerima kehadiran wanita yang saya suka. Saya tidak ingin mencobanya lagi. Lebih baik seperti ini saja sampai saya mampu.

Saya tidak ingin berpacaran. Tidak seperti halnya kebanyakan anak muda di zaman sekarang yang menganggap pernikahan harus berawal dari berpacaran. Tapi rasanya saya juga ingin sebuah kepastian untuk memperjuangkan satu nama untuk ditemui dimasa depan. Dua hal yang terlihat bertentangan, labil dan tidak jelas pro ke arah mana.

"Jodoh ditangan Allah kak" adalah jawaban yang standar. Kalimat singkat yang secara bersamaan membuat saya merasa senang sekaligus juga sedih. Senang, senang sekali sebab itu bisa saja berarti saya masih punya harapan. Sedih, sedih sekali sebab jika memang jodoh ditangan Allah "mengapa Allah telah mempertemukan aku dengan yang tidak dijodohkan denganku" begitulah sedikit pertanyaan diri atas kecewanya hati saya dengan pertemuan yang tidak seharusnya terjadi.




Mungkinkah dirinya jodoh saya? Ingin, ingin sekali rasanya saya membalas pesan tersebut "Kendaknyo kk berjodoh dengan kau dek" atau singkat "Semoga kita berjodoh, Aamiin". Namun, inilah saya, terlalu pengecut dan tidak berguna. Terlalu bingung "nanti bagaimana kalau masa depannya suram jika bersama saya?" Atau "bagaimana kalau dirinya marah" Lebih baik jika tidak saya jawab.

Wajarlah jika Allah kemudian membolak-balikkan hatinya. Saya hanya perlu yakin bahwa semua ini telah ditetapkan oleh Allah sang Maha Pencipta.

0 Response to "Jodoh di Tangan Allah"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar, semoga artikel yang kami posting dapat bermanfaat bagi anda :D

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel