Jangan Kirimkan Tulisan yang sudah terbit ke koran lain atau?

Minggu, 29 Juni 2018. Saya mendapat sebuah pelajaran baru. Tulisan yang sudah pernah terbit di koran tidak boleh diterbitkan di koran lainya. Seperti pada komentar berikut ini:
Screenshot kolom komentar Facebook Deka Firhansyah
Ya, saya memang salah, tapi saya tidak tahu jika ternyata ada kemungkinan untuk satu buah tulisan bisa terbit di 2 koran yang berbeda. Terlebih jika terbit nya terbilang di waktu yang sudah jauh berlainan. Seolah-olah saya telah curang karena mengirimkan tulisan yang sudah pernah terbit kepada koran lain.

Saya pikir jika sudah lebih dari 1 Minggu dan tidak terbit, itu berarti tulisan yang saya kirimkan itu artinya hangus atau sudah masuk kategori sampah dan tidak akan diterbitkan alias ditolak. Apalagi ini jaraknya sudah sangat lama jika dihitung dari saat dimana tulisan tersebut saya kirimkan.

Kecuali koran Kompas yang biasanya mengirimkan email balasan (walau berupa penolakan) untuk tulisan yang saya kirimkan sekitar 1 bulan kemudian setelah tulisan dikirimkan.

Tulisan saya yang dimaksud dalam kasus ini adalah tulisan saya yang berjudul "Cara Ngeprint Langsung dari Smartphone Pakai Printer Kabel" yang pernah saya bahas di blog ini. 
Tulisan tersebut pertama kalinya saya kirimkan ke Koran Harian Banyuasin tanggal 30 April 2018, seperti ditunjukkan pada email berikut ini:
Screenshot email Deka Firhansyah
Kemudian saya berpikir bahwa, kenapa tidak sekalian kirim ke koran Tribun Sumsel saja? Siapa tahu bisa terbit dan dapat honor. Harian Banyuasin memang tidak pernah memberikan honor atas tulisan saya yang mereka terbitkan.

Oleh karena itu pada awalnya tulisan yang saya kirimkan ke koran Harian Banyuasin adalah Tulisan-tulisan yang menurut saya kelas 2 alias terlalu malu bila dikirimkan ke koran Tribun Sumsel yang mencakup wikayaProvinsi Sumsel. Dan ya artinya saya tidak percaya diri dengan tulisan itu sehingga saya kirimkan ke Koran Harian Banyuasin terlebih dahulu.

Namun kemudian saya malah berubah pikiran. Saya teringat pada ucapan  Seseorang yang telah terlebih dahulu menekuni dunia tulis-menulis, yang menurutnya "Berhentilah untuk menjadi editor bagi diri sendiri". Kita tidak bisa tahu tulisan kita layak ataukah tidak untuk diterbitkan.

Kemudian saya mulai untuk lebih percaya diri dan mulai mengirimkan hampir semua yang saya tuliskan kepada koran Tribun Sumsel. Biarlah redakturnya pening alias pusing menilai dan memilih tulisan mana yang akan diterbitkan.

Adapun tulisan "Cara Ngeprint Langsung dari Smartphone Pakai Printer Kabel" tersebut ternyata (setelah cek email) saya kirimkan ke koran Tribun Sumsel di hari yang sama dengan saat dimana tulisan tersebut saya kirimkan ke koran Harian Banyuasin, seperti yang terlihat pada email berikut ini:
Screenshot email Deka Firhansyah
Ya, saya baru ingat kalau saya kirimnya di hari yang sama. Tapi ini sekaligus juga pembelaan diri saya sebab sewaktu itu tulisan saya tersebut memang belum pernah diterbitkan. Jadi tidak bisa dibilang bahwa saya mengirimkan lagi tulisan yang sudah pernah terbit.

Tulisan tersebut terlebih dahulu terbit di Tribun Sumsel pada hari Rabu, 9 Mei 2018, seperti ditunjukkan pada gambar berikut ini:
E-paper Tribun Sumsel
Saya sendiri sama sekali tidak menyangka bahwa diantara beberapa tulisan yang saya kirimkan ternyata tulisan itu yang dipilih untuk diterbitkan hari itu. Itu bukan Opini melainkan hasil pengujian atau Review atas sebuah aplikasi.

Dan yang lebih tidak saya sangka lagi, ternyata tulisan itu terbit untuk kedua kalinya di koran Harian Banyuasin pada hari Kamis, 26 Juli 2018, seperti ditunjukkan pada gambar berikut ini:
Dokumentasi dari koran Harian Banyuasin Kamis, 26 Juli 2018
Padahal tadinya saya pikir tidak akan terbit, karena sudah lama dan banyak tulisan baru yang saya kirimkan. Menurut saya ada tulisan saya yang lain yang lebih layak untuk diterbitkan.

Mereka tidak pernah memberikan tanggapan apapun. Mereka tidak memberikan honor atau hadiah apapun. Jadi wajar rasanya saya tidak sok hebat dengan mengirimkan pesan sekali lagi untuk menarik tulisan yang sudah saya kirimkan tersebut. Sudah lewat beberapa bulan lalu.

Demikianlah, "Berhentilah untuk menjadi editor bagi diri sendiri" kita tidak tahu tulisan mana yang layak terbit ataukah tidak, jadi coba saja mulai kirim kan satu persatu.

Senang Jika terbit Sedih jika Tidak Terbit jadi "Asal bisa Terbit"
Apalah arti sebuah tulisan jika tidak diterbitkan, tidak ada orang yang baca, tidak ada yang berkomentar? Karena itulah saya mengirimkan tulisan-tulisan saya kepada banyak media, koran maupun online. Tujuannya jelas memperbanyak jumlah orang yang membaca tulisan-tulisan saya. Sekaligus melalirkan pembaca ke blog saya.

Dikarenakan tidak adanya pesan balasan, saya merasa berhak untuk mencoba mencari peruntungan lainnya. Dalam beberapa tulisan saya  yang ada yang sifatnya mengejar momen. Jadi bayangkan jika saya kirimkan 1 bulan kemudian maka jelaslah momennya sudah lewat jauh.

Saya hanyalah orang biasa yang senantiasa bisanya hanya mencoba dan mencoba lagi. Mencari peruntungan untuk menerbitkan hasil tulisan-tulisan saya dari media yang satu ke media yang lainnya. Seperti halnya dengan hari ini saya mengirimkan tulisan kepada Harian Media Indonesia, dengan bukti email sebagai berikut:
Screenshot Email Deka Firhansyah
Sama seperti tulisan yang terbit di koran Harian Banyuasin, jika terbit di Kolom Suara Anda koran Harian Media Indonesia pun penulisnya juga tidak mendapatkan honor. Hanya saja, saya pikir tulisan itu cocoknya memang ke Kolom Suara Anda, sebab arah tulisannya bagi orang lain bisa diartikan sebagai keluhan.

Dan lagi saya malu untuk terus-menerus kirim tulisan ke Koran Tribun Sumsel. Rasanya sudah banyak yang saya kirimkan bulan ini dan tidak kunjung terbit lagi sejak terakhir tulisan saya terbit di Tribun Sumsel hari Rabu, 9 Mei 2018.

Ketika sedang banyak ide, ada banyak tulisan yang saya kirimkan ke media-media. Menurut saya sebuah kebetulan saja tulisan itu sudah lama saya kirimkan dan baru terbit hampir 3 bulan kemudian. Biasanya koran Tribun Sumsel menjadi tujuan utama saya, sebab sudah terbukti bersedia memberikan honor kepada saya.

Saya tidak munafik bahwa nilai ekonomis yang ditawarkan koran Tribun Sumsel memacu saya untuk menerbitkan lebih banyak. Namun tentu saja saya sadar, bahwa tidak semua tulisan saya bisa diterbitkan di koran Tribun Sumsel.

Selalu menyenangkan dapat melihat foto diri ini terpajang dikoran bersama dengan karya yang dihasilkan. Karena itu saya kadang melirik media lain yang tidak memberikan honor dengan harapan "asal tulisan saya bisa terbit".

Ya, selalu ada kebingungan saat pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan yang dibuat tidak atau belum secara segera dapat tersalurkan. Ada juga sedikit kekecewa saat tulisan yang dibuat dan dikirim tidak terbit. Jika terlalu lama menunggu dari satu media maka pasti akan keburu basi.

Satu Minggu atau dua minggu rasanya adalah waktu maksimal kemudian mencari jalan lain. Kecuali kompas yang sudah menjanjikan masimal 1 bulan.

Mencari Celah untuk Terbit
Untuk itu menurut pendapat saya tidak ada salahnya jika mengirimkan tulisan kepada banyak media sekaligus. Kecuali sejak awal dituliskan aturan bahwa tulisan tersebut harus berupa tulisan yang belum pernah dikirimkan kemanapun.

Saya pikir media massa seharusnya sudah punya teknologi khusus untuk mendeteksi sebuah tulisan itu pernah terbit ataukah tidak. Terutama jika media tersebut tidak mengirimkan surat balasan untuk bersedia menerbitkan ataukah tidak.

Seperti pada kasus tulisan saya, itu terjadi karena medianya kecolongan. Saya sudah mengirimkan tulisan tersebut sejak lama dan tahu-tahu diterbitkan Kamis lalu tanpa kabar kepada saya. Jika mereka mengabari  sebelum terbit tentu bisa saja saya tolak (sebab sudah dibayar Tribun Sumsel duluan) atau meminta diganti dengan tulisan saya yang lainnya yang juga saya kirim, itupun jika mereka berkenan.

Kebanyakan media hanya menerima kiriman tulisan dari masyarakat, namun tidak memberikan jawaban atas tulisan itu. Kecuali kompas yang secara jelas memberikan email balasan dalam tempo waktu sekitar satu bulan atas karya yang dikirimkan.

Nasip Penulis Digantung, bahkan diabaikan
Kebanyakan, nasip penulis senantiasa digantung tanpa adanya kepastian. Hanya bisa pasrah kirim dan menunggu. Padahal maunya penulis sesegera mungkin diputuskan terbit atau tidak. Jika ditolak berati bebas, jika diterima berarti ditunggu.

Jika tidak ada jawaban? Rasanya dengan kondisi demikian memang wajar jika penulis tersebut pada akhirnya mencoba-coba untuk mengirimkan karyanya kepada media lain setelah dirasa sudah diabaikan lama. Mana tahu tiba-tiba beruntung bisa terbit berkali-kali. Mujur.

Mengirimkan tulisan kepada banyak media secara bersamaan merupakan pilihan yang logis. Sebab dengan begitu setidaknya tulisan tersebut masih segar saat dikirim. Masih berada dalam momen yang tepat. Lagipula seharusnya media punya sistem deteksi untuk memastikan bahwa artikel yang mereka terbitkan merupakan ide baru yang belum pernah terbit sebelumnya.

Saya sendiri sepakat untuk tidak mengirimkan tulisan yang sudah terbit apalagi dibayar kepada media lain. Itu memang yang sudah seharusnya. Namun, jika sudah lama, sudah sepantasnya media tersebut menjalin komunikasi dengan penulis terkait keputusan untuk menerbitkan tulisan tersebut.

Disisi lain menurut saya penulis berhak untuk mengirimkan karyanya kepada media lain sebagaimana bentuk usaha sebelum adanya kepastian bahwa tulisan itu telah diterbitkan apalagi dibayar oleh salah satu media.

0 Response to "Jangan Kirimkan Tulisan yang sudah terbit ke koran lain atau?"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar, semoga artikel yang kami posting dapat bermanfaat bagi anda :D

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel