"PeLakOr" Karya Tulisan Deka yang Terbit di Koran Hari Rabu, 13 Desember 2017

Postingan ini adalah versi online dari tulisan saya yang terbit hari ini Rabu, 13 Desember 2017 Judulnya versi saya adalah  "PeLakOr", namun oleh redaktur media koran tersebut dirubah menjadi seperti pada gambar berikut:
Sumber: Dokumen pribadi

Yuk simak versi online nya berikut ini:



Astaga. Saya baru mengerti apa itu arti kata "pelakor". Ternyata kata "pelakor” adalah istilah  singkatan yang  kepanjangannya adalah "Perebut Laki Orang". Ada-ada saja istilah yang digunakan oleh Kids Jaman Now. Jaman Now memang sudah keblinger. Tadinya saya kira istilah “pelakor” itu adalah hasil typo atau salah ketik dari kata kasar "Pelacur" atau setidaknya sinonim dari kata tersebut. Ternyata tidak typo dan benar kata yang dimaksud adalah "PeLakOr". Kata tersebut merupakan istilah yang asing dan baru bagi saya. Saya kurang update atau memang ada yang salah? Entahlah.

Keblinger darimana?

Di atas saya sudah menyinggung soal Kids Jaman Now yang ada-ada saja. Ada istilahnya "PeLakOr" yang kepanjangannya ternyata "Perebut Laki Orang". Sengaja saya garis bawahi Laki Orang. Istilah “PeLakOr” belakangan ini sering digunakan tidak tepat dan salah tempat untuk digunakan menurut saya. Ya, keblinger. Kalau faktanya si cowok benar-benar sudah jadi laki atau suami dari si cewek maka bisa jadi benar dan tidak ada salahnya jika si cewek menyebut cewek lain yang hadir diantara mereka dan mencoba mendekati suaminya secara intim itu dengan istilah "PeLakOr" atau kepanjangannya "Perebut Laki Orang".

Anehnya. Jaman now istilah ini juga digunakan untuk merujuk pada cewek lain yang hadir diantara sepasang cowok-cewek dalam status masih pacaran. Keblinger khan. Hahaha. Alay. Lebai. Baru juga hanya pacaran kok pakai istilah seperti sudah menikah saja. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Istilah yang tidak tepat alias salah sasaran. Kids Jaman Now ada-ada saja.

Lanjut, simak kalimat berikut: "pacaran itu tidak bisa membatasi kita untuk berteman. Belum ada hak untuk saling melarang. Nanti kalau sudah menikah barulah ada hak untuk saling melarang" itu kata salah seorang teman saya yang juga sudah pernah pacaran. Kalau pikiran masih sehat dan logikanya bagus tentu seharusnya demikian. Pacar itu bukan hak kita tapi masih hak dan tanggung jawab kedua orang tuanya. Sebagai hanya pacar kita tidak berhak untuk melarang pacar kita untuk dekat dengan orang lainnya. Bisa jadi orang lain itu juga punya pacar lain.

Jadi bagaimana? ada yang bilang cinta itu buta. Buta karena cintalah yang membuat orang berpikir punya hak untuk membatasi pergaulan pacarnya. Menganggap sang pacar harus menghormati hubungan mereka. Merasa terkekang dan merasa tidak nyaman, lalu bagaimana jika sang pacar bertemu dengan orang lainnya yang mungkin lebih baik. Sang pacar yang masih dipenuhi keraguan dihatinya tentu akan mempertimbangkan. Orang lain ini kemudian mendapat gelar “PeLakOr”. Lebih parahnya, hubungan keduanya disebut “Selingkuh” yang juga lebih cocok untuk sepasang kekasih yang sudah berumah tangga. Salah sendiri tidak buru-buru ke jenjang pernikahan.

Kemudian emak saya juga pernah mengatakan hal yang nyaris serupa "Sebelum janur kuning melengkung maka masih bebas milik bersama". Benar, tidak ada salahnya untuk bergaul dengan teman lainya. Siapa tahu ketemu orang lain yang lebih layak untuk diperjuangkan. Sang pacar seharusnya mengerti bahwa dia tidak punya hak untuk melarang. Masih bebas. Salah sendiri belum siap ke jenjang pernikahan. Kesalahan justru ada pada hubungan intens dengan lawan jenis tanpa melalui pernikahan. Apalagi hubungan intim, ini yang dilarang dan ini yang tidak boleh untuk dilakukan karena hukumnya Zina.

Jika pacaran saja sanggup maka harus sanggup juga dong kalau pacar kita melirik rumput tetangga yang lebih hijau. Salah sendiri sudah mau hanya dijadikan pacar.

Anak muda Jaman Now memang rawan sekali galau karena cinta. Dilema cinta bahkan dapat membuat sepasang sahabat kental menjadi bermusuhan. Saya pun juga pernah mengalami yang namanya patah hati. Alangkah baiknya kalau kegalauan tersebut diarahkan kepada hal-hal yang positif. Hal ini jauh lebih baik daripada mengumpat dan menuduh orang sebagai “PeLakOr”. Lebih baik introspeksi diri saja. Banyak contoh musisi terkenal menghasilkan karya musik keren setelah patah hati. Dari kisah patah hati yang ia alami sendiri atau terinspirasi dari kisah patah hati orang lain sang musisi menghasilkan karya yang disukai banyak orang.

Bisa jadi ekspresi kegalauan itu juga diabadikan dalam bentuk karya tulisan. Bisa berbentuk puisi cinta tentang patah hati atau bahkan bisa dijadikan sebuah novel. Sebagai permulaan bisa dimulai dengan mencoba menuliskan kisah-kisah yang jadi beban dipikiran itu kedalam buku diary atau juga bisa ke sebuah diary online atau Blog.

Teruslah menulis. Kemudian kemampuan menulismu akan semakin terasah. Pelan-pelan kita bisa membangun rasa percaya diri dalam menulis. Percaya dirilah atas hasil karyamu dan tunggu hasilnya. Coba-coba kirimkan tulisanmu itu ke media, jika memang dianggap sudah dianggap layak maka insyaAllah pasti diterbitkan. *Deka Firhansyah, cS.IP.


*
Selain terbit secara cetak, koran tersebut juga terbit dalam format e-paper yang juga bisa didownload mulai pukul 17 WIB. Untuk versi E-paper nya saya hanya mendownload halaman yang memuat tulisan saya berikut ini:
Sumber: http://sumsel.tribunnews.com/epaper/index.php?hal=10#


Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisan saya ya. Buat kamu yang punya kritik atau saran silakan, jangan sungkan untuk menuliskan kritik dan sarannya di kolom komentar yang sudah saya sediakan hehehe 😊.

0 Response to ""PeLakOr" Karya Tulisan Deka yang Terbit di Koran Hari Rabu, 13 Desember 2017 "

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar, semoga artikel yang kami posting dapat bermanfaat bagi anda :D

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel