NOVEMBER DUKA, Langit pun Menangis

November DUKA, Langit pun Ikut Menangis.

November adalah bulan duka buat saya. Duka ini justru hadir di bulan yang sama dengan hari kelahiran teman saya. Hari ini (3/11/2017) adalah hari kelahiran Nova Reski Alfarisi salah seorang dari hanya sedikit orang yang pernah duduk di kursi sebelah saya selain Deki. Besok (4/11/2017) adalah hari kelahiran teman seperjuangan di SMA PLUS NEGERI 2 BANYUASIN III Juga di Unsri, namanya NOPRIYANTO. Ya, bulan ini seharusnya bulan yang membahagiakan.

Tanggal 22 November sendiri adalah hari kelahiran Duta Wulandari, S.E teman sejawat kami yang lain sama seperti Nopri. Entah mengapa saya masih hafal tanggal lahir mereka beserta tanggal lahir beberapa teman lain.

Tanggal 12 November juga spesial karena itu hari lahirnya salah satu sohib dekat saya yang bernama Mantep Prasetyo salah seorang yang "Mungkin" tau segalanya tentang diri dan karakter saya, seperti yang ingin saya perlihatkan. Bulan November ini spesial. Namun juga ada kekecewaan yang terjadi persis di bulan ini juga.

18  November 2015. Hari itu ditandai dengan cuaca panas di pagi hingga sore hari (seingat saya), cuaca panas yang semakin mendung di sore hari itu. Kemudian hujan deras menerpa diri saat sedang bersama dengan orang lain. Saya basah kuyup setelah menyerahkan jas hujan satu-satunya yang saya punya kepadanya.

Ceritanya hari itu dia meminta saya menemaninya membeli kue. Sebuah kue yang saya tahu bahwa itu pasti untuk pacarnya. Wajar saja bila seorang teman membantu temannya. Saya membantunya sebagai teman. Ada hal yang janggal saat dia tidak jujur bahwa kue tersebut untuk sang pacar. Saya menyuruhnya membubuhkan nama di kue tersebut, dia menolak, sesaat ketika penjual memberi saran untuk menambahkan nama di atas kue tersebut dia kemudian menyuruh saya keluar toko terlebih dahulu. Tanpa banyak tanya saya keluar toko. Saya paham dia pasti akan berubah pikiran dan menambahkan nama seseorang di atas kue tersebut. Seseorang tersebut sudah pasti sang pacar. Dia malu kepada saya karena itu saya disuruh tunggu di luar. Penjaga toko mungkin agak heran saat saya disuruh keluar dan mungkin langsung paham saat kue tersebut sudah diberi nama. Saya hanya pelayannya. Saya ke luar dan menunggu cukup lama hingga dia keluar toko dengan senyumannya yang khas.

Hujan deras telah menanti saat dia keluar dari toko. Hujan itu bagi saya selayaknya langit ikut menangisi pilihan bodoh yang saya ambil. Hari sudah sore. Dia harus segera pulang. Jika tidak pulang maka sia-sia rencana yang sudah dia susun. Dia tidak bilang tapi di wajahnya yang cantik dan tampak bingung semuanya telah tergambar dengan jelas. Saya mengerti itu dan saya menawarkan agar dia mau menggunakan jas hujan punya saya. Jas hujan saya tersebut agak kotor karena belum sempat saya cuci. Biarlah saya sedikit kehujanan mengantarkannya ke terminal.

Asalkan dia tidak kehujanan saya rela. Kami memutuskan berteduh di suatu tempat karena hujan semakin deras, dikhawatirkan kue tersebut hancur. Hari semakin sore, hujan semakin lebat hingga tidak mungkin bagi kami untuk menunggu hingga hujan reda. Kemudian kami melanjutkan perjalanan.

Dia adalah orang yang kusukai. Langit seolah turut menangis meratapi perihnya hati diri ini. Sakit. Meski tidak tampak luka menganga namun hujan itu menambah pedih.

Bukan iri. Bukan pula cemburu atas kue yang hari itu Dia beli dan Dia bawa bersama diri ini. Tidak itu sama sekali tidak jadi soal. Semua baik-baik saja. Hati ini sudah lama ikhlas karena paham dia punya seseorang yang dia sukai dan mereka saling suka.

Diri ini hanya kecewa atas tidak jujurannya. Dia tidak jujur dan menyebutkan lantang kalau kue itu untuk orang yang dia sukai.

Ada yang bodoh karena sudah rela diperalat atas dasar suka. Itulah saya. Jelas karena itu langit pun ikut menitikkan air mata.

Bila orang-orang disamping-samping kami tahu mungkin mereka bakal menahan tertawa sembunyi-sembunyi menertawakan pilihan sikap si bodoh ini yang rela untuk dibohongi.
Berdua kami tampak seperti sepasang kekasih. Namun nyatanya rasa ini hanya bertepuk sebelah tangan.

Si bodoh yang bahkan tidak layak jadi teman bagi orang yang dia sukai. Langit pun menangis.
Itulah mungkin yang namanya cinta. Terlalu rumit untuk dijelaskan. Entahlah apa artinya saya baginya yang pasti saya menyukainya. Saya menyayanginya. Saya mencintainya. Karena cinta aku rela.

Mengapa kemudian itu saya lakukan meski sadar bahkan bukan teman?
Karena dia meminta saya melakukan itu. Dia tidak takut meminta tolong kepada saya. Dia berani untuk menghubungi saya. Dia minta tolong kepada saya sementara saya ada waktu luang jadi apa salahnya saya membantunya. Dia bilang sayalah satu-satunya harapannya. Karena Dia mungkin malu sehingga tidak mau merepotkan temannya yang lain. Karena saya menginginkan Dia. Saya ingin Dia menjadi pendamping hidup saya. Saya menyayangi Dia. Saya mungkin jatuh cinta kepadanya. Dialah yang akhirnya belum bisa membuat saya melupakan Dia yang sebelumnya. Yang benar bukan lah saya harapannya tapi Dialah harapan saya ketika itu. Karena semua itu saya mau membantunya. Saya rela dibohongi oleh Dia.
Teringat bulan sebelumnya kami jalan berdua. Saya menyebutnya ngedate pertama kalinya. Na’as itu pertama kalinya saya jalan berdua saja dengan seorang wanita. Saya senang karena Dia orang yang saya suka.

Hari itu ceritanya Dia yang memulai obrolan seperti biasanya. Hari itu kami sama-sama libur. Dia mengajak saya jalan. Tentu langsung saya iyakan. Sudah lama saya ingin jalan dengan Dia tapi, Dia punya pacar jadi saya tidak berani mengajaknya  jalan berdua.

Nonton berdua
Kami janjian ketemuan di sebuah tempat. Saya tidak punya rencana jalan kemana. Dia juga tidak ada rencana. Bodohnya saya,  seharusnya saya sudah menyusun rencana mau kemana. Sama-sama bingung kami akhirnya memutuskan nonton bioskop saja. Hari itu untuk pertama kalinya pula bagi saya nonton film di bioskop. Biasanya saya hanya nonton film di layar kaca entah itu layar kaca televisi  atau layar laptop saja. Apa film yang kami tonton tidaklah penting. Saya malah lebih fokus nontonin Dia yang lagi nonton. Sungguh saya merasa beruntung punya kesempatan nonton berdua dengan Dia dan Dia yang mengajak.

Makan berdua
Saya agak lupa kami makan berdua setelah nonton atau sebelum nonton. Yang pastinya saya memaksa mentraktir Dia. Habis sudah uang tabungan saya hahaha, begitulah pikir saya. Tapi saya senang-senang saja karena Dia ada di sisi saya.
Pulangnya saya mengantarnya ketempat yang sama saat kami berjumpa. Dia menolak saat saya meminta mengantarkannya pulang ke rumahnya. Mungkin belum saatnya, pikir saya. Sempat dijalan ban motor saya kempis sehingga saya dapat punya waktu lebih lama berdua dengannya. Lanjut perjalanan kemudian kami tiba di tempat kami janjian saat berangkat. Dia berkata terima kasih dan meminta saya untuk tidak sungkan bila ingin mengajaknya jalan berdua lagi dikemudian hari. Dia juga mengirimkan pesan serupa yang baru saya sadari saat saya tiba di kosan tercinta. Hal itu tidak terlaksana hingga kini karena saya selalu bokek dan saya sadar bahwa dia punya pacar yang Dia sayangi. Saya tetap memilih jaga jarak.

Kami memang cukup dekat. Namun kini dia SAH istri orang lain...Bersambung.

0 Response to "NOVEMBER DUKA, Langit pun Menangis"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar, semoga artikel yang kami posting dapat bermanfaat bagi anda :D

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel