Ada Untuk Emak #AdaUntukIbunda

Hai guys, hari kamis tanggal 22 Desember 2016. Seperti halnya tahun tahun sebelumnya, tanggal 22 Desember selalu diperingati sebagai hari ibu sedunia. Momentum hari Ibu sedunia biasa di isi dengan memberikan perayaan spesial untuk ibu berupa kado yang sangat berkesan dan menunjukkan kasih sayang seorang anak kepada ibunya.

Hari Ibu adalah salah satu hari yang tidak pernah saya ingat dan bagi  pernah ada didunia apalagi dirayakan.  Keluarga saya memang bukan tipikal keluarga yang gemar merayakan hal-hal yang sepele seperti hari ibu atau hari-hari lainnya. Hari-hari seperti hari Ibu, hari ayah, atau hari lainya menurut keluarga hanya cocok untuk orang kaya sementara bagi kami semua hari adalah sama.
Saya akui saya tidak pernah ada untuk ibunda, ibunda saya biasa saya panggil "Emak" seperti yang telah saya tuliskan dalam postingan-postingan atau tulisan saya sebelumnya. Saya belum pernah merayakan hari ulang tahun emak apalagi hari ibu sedunia. Saya tidak tahu apakah yang saya lakukan sudah cukup membuat orang tua saya bangga, tapi saya yakin bahwa yang pernah saya lakukan sama sekali belum bisa dianggap membanggakan.
Di tahun 2012, tepatnya di hari perpisahan saya dan teman-teman seangkatan saya emak pernah bercerita tentang obrolannya dengan orang tua lainya. Ceritanya begini, ketika itu menurut emak saya sedang berdiri di atas panggung bersama 5 siswa-siswi lainya untuk foto-foto dan pengambilan hadiah. Didepan emak duduk orang tua siswa lain yang sedang berbicara dengan orang tua siswa yang lain, mereka menurut emak sedang membicarakan tentang saya,
Orang tua A: wow dia terus yang dapat juara, dari sd, smp, sampai sma masih jadi juara, alahkah bangganya jadi orang tuanya ya...
Orang tua B: Iya ya hebat nian, pasti la bangga.
Emak: :)
Emak hanya hanya bisa tersenyum bangga mendengarnya karena memang dialog tersebut tidak melibatkan beliau sehingga beliau tidak enak untuk menimpali.
Saya terharu mendengarnya, entah benar atau tidak saya sangat senang bila beliau bangga, meskipun menurut saya sendiri yang saya lakukan bukanlah sesuatu yang mengangkakan. Saya hanyalah juara 3, masih ada 4 siswi lagi yang lebih membanggakan daripada saya. Jadi saya merasa telah gagal.
Saya tidak pernah menuntut untuk diberi hadiah dari orang tua karena memang hadiah akan lebih punya makna apabila yang memberi ikhlas memberikannya. Tidak seperti anak-anak lain yang baru ketika masuk SMP atau SMA langsung meminta dibelikan motor kepada orang tuanya, tanpa pernah berpikir bahwa motor itu akan menjadi tambahan beban bagi orang tuanya selain biasa sekolah. Saya hanya menerima yang mereka beri meskipun seringkali tidak sesuai seperti yang saya inginkan.
Ketika saya sadar dimasa depan saya wajib punya komputer maka saya semakin rajin menabungkan uang jajan yang saya terima dari orang tua. Saya mulai menabung kelas 2 SD karena sadar orang tua saya tidak bisa membelikan sesuatu yang saya inginkan, seperti mainan-mainan yang bagus. Sejak kelas 4 sd saya mulai fokus menabung untuk keperluan-keperluan penting dimasa depan. Saya bersama saudara saya juga membuat buku tabungan saya sendiri dari kertas polio yang tidak habis di jual ayah. Saat SMP saya sadar bahwa saya butuh komputer sehingga tabungan saya saya fokuskan untuk beli komputer, walaupun hingga tamat SMP belum juga tercapai. Ketika SMA saya dan saudara saya mengalihkan tabungan kami untuk beli hape yang juga bisa dipakai untuk internet alasannya, kami merasa hape sudah canggih bisa internet dan lebih praktis daripada komputer yang harus menggunakan listrik berdaya besar sementara listrik rumah saya berdaya kecil.

Emak benar-benar mendukung setiap keinginan saya dan berusaha mewujudkannya. Kelas X semester 2 hape pertama kami, diambil emak untuk ditukar hape yang lebih canggih yang kemudian akhir tahun 2010 kami punya hape yang juga kembar. saat kelas XI atau tahun 2011, kami sudah benar-benar bosan dengan hape meskipun kemudian kami ganti hape lagi yang lebih canggih yang mendekati komputer tetap saja belum bisa menggantikan peran komputer. Kami butuh laptop untuk menunjang aktivitas belajar karena pada masa itu kami sering ke warnet dan pulang malam sehingga dimarahi orang tua kami. Kami pun akhirnya dibelikan laptop pertama kami, meskipun lagi-lagi tidak sesuai seperti keinginan kami tapi tetap kami syukuri.
Emak selalu ada buat kami meskipun kami belum bisa selalu ada untuk emak. Sedikit-sedikit kami hanya bisa mengurangi beban emak dan ayah dalam menyekolahkan kami dan sebisa mungkin mendapat prestasi. Saya dan saudara saya sadar peluang kami untuk kuliah hanya sebatas bila kami bisa masuk unsri. Ayah tidak ingin mengemis dan merendahkan diri ikut beasiswa bidik misi yang memberi peluang pada kami kuliah di tanah jawa. Ayah merasa masih sanggup menguliahkan kami bila itu di unsri. Maka kami penuhi keinginan itu. Deki masuk unsri lewat jalur undangan, kemudian saya menyusul lewat jalur ujian tulis. Itu adalah cara kami dalam mengurangi beban orang tua atas biaya kuliah kami. Kami juga ikut program beasiswa lain selain bidik misi tanpa sepengetahuan orang tua kami, kami juga ikut PMW yang tujuannya sama untuk meringankan beban mereka.
Hanya begitu saja bagi saya belum bisa membuktikan bahwa saya #AdaUntukIbunda. Saya kerap kali marah pada emak, protes, mengeluh kecewa, meskipun akhirnya saya sadar emak dan ayah telah memberikan yang terbaik untuk saya dan saudara-saudari saya. Saya tetap marah karena saya merasa iri dengan keadaan teman-teman lainnya. Mereka tidak butuh menabung dulu atau usaha dulu untuk mendapatkan yang mereka mau. Mereka hanya butuh merengek sedikit dan orang tuanya akan memberikan segalanya. Mereka tidak peduli orang tuanya berhutang atau dari mana yang penting apa yang mereka mau itu yang mereka dapat. Saya iri karena saya pikir saya pikir saya sudah memenuhi yang mereka mau sementara mereka tidak pernah memenuhi keinginan saya. Saya marah ketika saya ditelpon saat sedang dalam perjalanan pulang, atau saat sedang berkumpul dengan teman-teman kuliah, saya ditelpon dan disuruh pulang untuk bantu mereka, untuk membeli belanjaan titipan mereka.
Saya sadar saya selalu protes san marah atas tuntutan mereka. Mereka menuntut dan menyuruh merupakan hal yang wajar karena memang tugas anak untuk selalu ada untuk orang tuanya. Khususnya seorang anak harus siap sedia untuk ibundanya karena surga ada dibawah telapak kaki ibu, dulu ketika kita masih bayi, ibu kita selalu siap 24 jam ketika kita menangis. Ibu selalu ada buat kita tetpi kita selalu protes ketika ibu butuh kita. Kita marah saat ibu menanyai kabar kita. Tapi ibu tetap selalu ada buat kita. Ibu ikhlas untuk selalu ada buat kita.
Semoga bisa diambil hikmahnya agar kita sebisa mungkin berusaha untuk #AdaUntukIbunda #AdaUntukEmak

3 Responses to "Ada Untuk Emak #AdaUntukIbunda"

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar ya:D

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Support!!!

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua

Dukung Blog CeritaK ini agar selalu update dengan cara meninggalkan komentar dan membagikan artikel-artikel yang kalian baca.

Anda juga bisa memberikan donasi melalui pulsa ke 08982368506. Dana hasil dari donasi akan digunakan untuk mengembangkan konten blog CeritaK.

Kunjungi juga Blog Deka yang lainnya berikut ini:
JelajahSumatera.com
StoryAboutGadget.com

Buat interaksi dan mengenal Deka secara lebih personal silakan follow juga akun sosmed Deka di:
Facebook:
Https://facebook.com/deka.firhansyah
Fanpage:
CeritaK
Instagram:
@dekafirhansyah94
Channel YouTube:
CeritaK - Deka "K"Firhansyah
Email:
firhansyahdeka@gmail.com

Terimakasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.